Senin, 31 Januari 2011

Transparansi Angka di Kampus Kami

Karpet yang bertatapan dengan televisi di ruang kosan yang seperti terkekang adalah sentra sosialisasi anak2 kosan saya. Tingkat keseksian seorang bintang opera sabun, gejolak harga bahan baku sambal, sampai aksi2 festival sirkus 'orang2 pilihan' menjadi topik seru perbincangan atau perang argumen kami. Sore yang tanggung itu adalah setting obrolan kami yang berjudul "transparansi nilai". bahan cuap2 kami berbeda-beda, ada yang berdasar item2 hasil rapat formal, isu2 yang sangat berkembang subur di sekitaran kami, atau logika personal yang bercampur dengan perasaan sensitif yang saya terapkan. Seorang dari kami berpendapat transparansi yang menghargai privasi itu sangat perlu, seorang lagi (di bantu saya) menggerutui kebijakan yang menurutnya hanya akan menimbulkan malapetaka skala menengah, dan saya yang beranggapan bahwa mahasiswa itu perlu cerdas, tidak hanya IQ, tetapi juga EQ dan juga, yang penting, SQ kepada sesama,yang saya artikan bahwa kita juga harus memikirkan nasib2 sejawat kita (bisa saja saya) yang mungkin akan terimbas, yang mungkin harus mati2an karena beberapa hal hanya untuk sekedar mempertahankan namanya tercantum di lembar presensi kelas.

Sementara sore tadi selepas aktivitas kuliah yang saya lalui tanpa niat dan hanya bertujuan melengkapi absen (jangan pernah meniru kebiasaan buruk saya ini), saya berkesempatan menghadiri acara presentasi yang membahas perihal permasalahan di tulisan ini yang diadakan oleh pihak lembaga kampus tercinta. Paparan pihak yang berkompeten menjelaskan bahwa transparansi bertujuan utama untuk memotivasi mahasiswa untuk memacu prestasi dan bermuara pada peningkatan performa nantinya di instansi tempat kami dilemparkan nanti. Pihak lembaga mengaku konsep ini akan diterapkan demi kebaikan mahasiswa juga, jadi transparansi ini ada bukan malah untuk mempersulit mahasiswa. Sementara tanggapan dari kami, para agen perubahan memang sangat kritis, mulai dari yang meminta privasi dikedepankan, pemberian saran-saran yang visioner yang mungkin sulit diterapkan, keluh kesah akan fasilitas yang kurang memadai terkait tuntutan agar mahasiswa mampu berbenah menghadapi transparansi, sampai ungkapan rasa resah atas pesimisme terhadap hari esok.

Kawan, mungkin kampus kita kesulitan untuk menyediakan fasilitas sekelas kampus2 teman2 kita lainnya karena kampus kita memang dibiayai murni oleh negara dan tak memungut apapun dari orang tua kita yang terus saja kita bebani itu. Kampus kita juga pasti telah memikirkan metode terbaik dalam pembelajaran yang kita tempuh, mahasiswa-mahasiswi terbaik yang telah disaring secara ketat demi mengisi masa depan birokrasi keuangan negara kita ini. Kebijakan telah diambil dan sepertinya yang bisa kita lakukan hanyalah mengawal supaya prosesnya berjalan sesuai yang sama2 kita harapkan, walaupun saya juga berharap2 cemas  terhadap nilai yang akan dipampang nantinya.

terakhir yang saya harapkan adalah:
yang penting saya dan temen2 saya bisa lulus dari kampus tercinta ini :)




"When the world gets in my face,
I say, Have A Nice Day.
Have A Nice Day"

Have A Nice Day,Bon Jovi


Rabu, 19 Januari 2011

Saya selalu sulit memulai segalanya

kita mungkin mulai 'menulis' sejak kita dapat menggenggam benda yang dapat memancarkan noda. Hanya medianya saja yang akan terus bergulir mengekor akselerasi fana.

bermula saat saya sedang melakukan eksplorasi pembunuhan masa,in the another lonely night. Sebuah link mengantar pada halaman kusam yang ditulis seorang hamba nilai lainnya. kesimpulan dari jejalan karakter di mata adalah, oh damn it is fuckin' cool. ternyata di balik visual seseorang yang 0 derajat, yang ditulisnya bisa bersudut 180 degrees, layaknya komentar seorang comrade yang mendeskripsikan saya dengan pria garang berhati hello kitty. intinya adalah halaman seperti ini diharapkan bisa menransfer imajinasi, proses logika, dan ego reptilian saya pada suatu tulisan yang mungkin dapat menjadi trigger gerakan positif bagi universe atau bahkan toksin di neuron kalian.

saya (mungkin) akan menulis apa yang sel otak saya pikirkan saat menonton televisi kosan saya yang kehilangan remotenya, balada realita kepecundangan saya yang hanya bisa bergagap ria ketika berbicara dengan tokoh utama novel fiksi kehidupan sempurna rekaan saya yang kontras dengan obrolan anak SD gang kosan yang mengaku baru memutuskan pacarnya, atau filosofi hidup yang penuh kelicikan absurd, tambal-sulam narasi fakta, ketidakpeduliansosial, dan simbiosis parasitisme yang saya anut, tetapi sedang saya netralisir karena saya benar-benar mencintai sebagian komunitas sekitaran hidup saya saat ini.

yeah, iam not a hero nor a zero

Blogger news

Photobucket