Jumat, 26 Oktober 2012

Touring AGK: Sekilas Pandang



Sedikit-sedikit sekarang menyebut AGK, jadi apa itu AGK? Anggaran Garis Keras yang disingkat secara datar datar saja menjadi AGK adalah kumpulan mahasiswa spesialisasi Kebendaharaan Negara alias Anggaran yang bervisi membawa Kebendaharaan Negara menjadi spesialisasi yang terhormat. Kuantitas bukan alasan untuk tidak berprestasi, AGK siap mengawal mahasiswa-mahasiswa anggaran yang akan bersaing dalam kompetisi apapun, minus dance mungkin, yang membawa nama spesialisasi. AGK terbentuk dari anak-anak anggaran yang sering nongkrong di Plasma, Warkop Ponjay, dan Sevel Veteran ala zaman baheula dulu. Treasury Futsal Cup adalah ajang pertama unjuk gigi AGK. AGK dan seluruh mahasiswa anggaran sukses menjadi suporter super berisik yang membuat lawan terintimidasi sehingga akhirnya Tim RKA-KL milik anggaran sukses merebut supremasi paling bergengsi futsal antar spesialisasi di kampus.

Catatan Akhir Kuliah: 10 Oktober 2012


"Setelah ini kalian harus mengikuti judicium, karena jika tidak ikut maka kalian dinyatakan tidak lulus, wisuda hanya pesta saja" seru Ibu Kabid Akademis Pendidikan Akuntan sekembalinya kami dari Capacity Building, seakan kami ini berpotensi tidak mengerti hal yang sebegitu maha pentingnya. Saya ikutan wisuda dengan motif dorongan orang tua. Terlihat dari Aba dan Uma saya yang lebih excited pada hari rabu itu ketimbang saya.


Ebes-Ayas-Emes


Amati Aminah, satu dari Ibu-Ibu Kedua Penulis


bersama Ogo dan Man, dulunya calon penghuni Kos Soir yang legendaris


bersama Hans, teman duduk pertama dan terakhir di kampus, diapit Erik, Ceprin, dan Jali


gagal full team


 satu-satunya hasil jepretan kamera hape penulis

Terima Kasih Aba dan Uma
Terima Kasih Amana
Terima Kasih Kolonel (Laut) M.Richard Sekeluarga
Terima Kasih Teman-Teman
Terima Kasih Panitia Wisuda

Kamis, 25 Oktober 2012

Catatan Akhir Kuliah: 6-7 Oktober 2012

6 Oktober 2012 - Pagi

Malam indah telah paripurna. Saya terbangun esok paginya sambil mengingat-ingat memori indah dan, ah sudahlah, saya sudah berjanji untuk tidak menulis secara galau lagi. Pagi hingga sore saya mengerjakan hal hal yang berbau anak kos hingga sahabat saya sejak abu putih, Man datang ke kosan menanyakan di mana sahabat saya yang satunya lagi, Oong. Usut punya usut ternyata mereka akan jalan ke pantai bersama anak PBB lainnya. Pantai Pualu Untung Jawa, di Tangerang katanya. Sebenarnya saya ingin sekali ikut, obsesi saya adalah mengoleksi pengalaman tiduran di pasir pantai sebanyak mungkin, lagipula saya lumayan kenal beberapa anak PBB. Namun, karena mereka gak mengajak, ya sudahlah, lebih baik saya lanjut guling-guling di kosan saja.

Hape berbunyi, sms dari Oong masuk, isinya ajakan gabung karena mereka sebenarnya tahu sengebet apa saya bermain di pantai. Bergabung dengan rombongan PBB dan sahabat dalam angkot carteran, saya kenalan lagi dengan beberapa anggota. Beberapa menit kami langsung akrab, bernyanyi, bergitar playlist maut berisi lagu seperti Mawarku-nya Funkop, Lihat, Dengar, Rasakan-nya SO7, Hati yang Terluka-nya Betharia Sonata, Arumbia-Arumbia, dan tentu saja Satu atau Dua versi Anak PBB yang terus terngiang di telinga.

Sampai di Tanjung Pasir, Tangerang, kami menyeberang ke Pulau Untung Jawa via kapal motor pada malam harinya. Satu jam kemudian kami telah menepi di dermaga pulau, dan saat itu juga tersadar bahwa Untung Jawa merupakan salah satu bagian dari gugusan kepulauan seribu. Bayangan kami akan pulau eksotis yang belum termodernkan ternyata salah, sudah pro ternyata, istilah kami.

Kere dan gembira, itulah falsafah kami dalam bertualang, tidak perlu sewa kamar, tiduran di pasir pun pasti nyaman. Namun karena akhirnya menemukan semacam gazebo yang lebih layak, akhirnya kami memutuskan ngepos di sana. bermain kartu, bercanda lepas sambil main 'kyai-kyaian' sejenak sebelum akhirnya pulas dibelai angin lautan.

Nyatanya ini liburan mahal, bangun pagi dan menyadari salah satu dari gitar yang kami bawa raib, menambah daftar kerugian setelah galon air pecah dan hape Fero hilang. Sudahlah, "ayo liburan!" pekik kami. Mengitari pulau, menyusuri pantai, berenang di lautan, dangdut koplo dalam air, membentuk formasi piramida manusia,  dan kembali main'kyai-kyaian'. Belum puas bersenang-senang di laut saja, lanjut main lempar-lemparanan kerikil anarkis sambil menunggu jemputan Lek Darat dan Lek Laut.

Syahdan jemputan datang, kami kembali bergumul dalam angkot berhimpitan lagi, kembali bergitaran liar sambil sesekali menggodai pengemudi yang berpapasan di jalan. Liburan kere, singkat, dan penuh gelak tawa tanpa henti sepanjang jalan. Terima kasih PBB dan Sahabat!


"Spesialisasiku yang terbaik, tetapi jika dipaksa harus pindah dengan pertimbangan tongkrongan, saya pilih PBB saja"


7 Oktober 2012 - Malam

Sampai di kosan saya istirahat sebentar sebelum malamnya rapat terakhir persiapan hajatan terbesar Anggaran Garis Keras: Touring Jawa Timur. Kosan selepas maghrib menyeruakkan hawa yang berbeda. Bocah-bocah penghuni kosan yang biasanya berseliweran dengan oblong dan memancarkan bau kecut sekarang sibuk berhias kemeja dan blazer beraroma wangi. Jadilah saya menyempatkan diri sejenak nimbrung anak2 akuntansi yang rencananya menghadiri pesta perpisahan spesialisasi mereka. Saya ikutan sibuk jadi konsultan fashion asal-asalan, membenarkan kerah Aga, menyuruh Brori berganti celana denim dan bersepatu, meyakinkan Ilham bahwa setelannya sudah layak dianggap bukan pakaian sopir taksi. Saya akhirnya ikutan berangakat bersama ke kampus, saya belok ke Plaza Mahasiswa, mereka ambil jalan terus ke Gedung G.

Plasma terlihat sangat sepi untuk ukuran jam saat itu. Tam dan Irwan sudah stand by, saya nimbrung, berikutnya satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya pasukan baret merah ikut bergabung hingga hiruk pikuk, Plasma kembali hidup. Setelah alur serius-bercanda-serius-bercanda-bercanda-bercanda-bercanda dst. hingga buyar, sekitar dua puluh kepala pasukan khusus tali merah telah menyatakan bergabung dalam misi. Tiket telah dikoordinasikan, pleton pun buyar.

Akhirnya yang tersisa tinggal Saya, Tam, Irwan, dan Ajay. Gak ada kerjaan, kami pun iseng-iseng berniat masuk Gedung G, melongok Closing Entries. Awalnya saya gak yakin bisa masuk, pintu utama dijaga, pintu samping terbuka tapi sepertinya panitia sudah siap sedia. Ajay masuk, panitia mencegat, panitia maju begitu saja, meninggalkan kami, kami lolos masuk tanpa perlawanan berarti. Sepertinya memang tak mungkin menghafal muka anak akuntansi satu per satu.

Kami mengambil tempat di tribun atas, menonton guest star, Adera atau apalah namanya saya gak begitu ngeh. Gak minat lihat sang bintang tamu, saya melihat bagaimana tingkah pola anak akun dan acara mereka ini. Mereka berdandan sedikit lebih wah dibanding anak anggaran, panggung lebih nginclong, dan tentu saja jumlah yang jauh lebih unggul dari kami. Namun ada yang janggal, mereka banyak tetapi tidak berbaur, mereka terkotak kotak tiap kelasnya, tidak ada gerakan barisan satu angkatan seperti yang kami praktikkan.

"Inilah perbedaan spes kaya dengan spes kompak" quote dari RZI, si tua yang penggambarannya seperti Orang Tua di cap minuman anggur kolesom.
Bosan, kami pun pulang. Turun dan cari sedikit minuman di lantai bawah, akhirnya saya berhasil bertemu Aga dan Cahyo, korban yang menerima eksperimen sentuhan tata busana ngasal di kosan. Kami berfoto karena saat saat perpisahan seperti ini selalu layak untuk diabadikan setiap jengkal waktunya.


Saya dan Tam diapit orang-orang yang dekat dengan kekuasaan

"Alhamdulillah saya masuk Kebendaharaan Negara Ya Allah, seperti doa saya dalam sujud ketika masih SMA kelas tiga"


Terakhir


Saya janji ini tulisan galau saya yang terakhir



mereka bilang edelweiss bunga keabadian, menurut saya lebih seperti brokoli

Catatan Akhir Kuliah: 5 Oktober 2012

Pagi
Ini adalah hari yang saya tunggu-tunggu tiga tahun yang terdahulu. Semua orang berpakaian seragam hitam putih, berdasi bagi yang bertitit. Berangkat dengan satu tujuan: pulang dengan gelar kecil-kecilan telah disandang. Hari ini untuk pertama kalinya juga saya berangkat ke kampus dengan naik ojek, saking tidak inginnya semua angan-angan indah buyar begitu saja. Ini lah Judicium, kamerad, ajang peresmian kelulusan.

Acara dimulai. Setelah mencoba terhibur dengan akustik Si Balada Anggaran09, yel-yel setengah hati, aksi stem gitar Sahabat Noah, dan tetek bengek akademis akhirnya nama saya dipanggil juga dan resmi dinyatakan lulus: Husein Fagih, A.Md !


"Muhammad Husein, Muhammad Husein, Muuuuhammaaaad Husein!!" yel-yel Anggaran Garis Keras berkumandang ketika saya maju ke depan.

Atas: Jipong, Mat, Anggun, Iwun, Makassar, Feri Oi, Ajay, Penulis, Billy
bawah: Masteng, semuanya pake A.Md.


bertanya-tanya apa yang bisa membuat orang-orang ini bisa sekali saja berpose formal


masih bertanya-tanya


saya bilang lupakan kelas, tapi saya ingkar


Malam

Lulus sudah, sekarang let's start the party. Ini seumur hidup sekali, jadi benar-benar tidak ada alasan untuk absen bertemu dengan kawan-kawan seluruh angkatan yang kesempatannya bakal menjadi sangat langka. Undangan sudah diterima, disebutkan bahwa dresscodenya adalah semiformal colorfull. Karena bingung seperti apa itu semiformal colorfull, jadi saya putuskan untuk pakai formal sekalian.


edisi kegagalan handsome bravo: lebih sering dikelilingi sesama daripada lawan

Layaknya pesta kelulusan, promnight atau sejenisnya sebenarnya saya ingin membawa gandengan, tapi karena satu dan lain hal dan demi kemaslahatan umat saya putuskan berangkat dengan sesama fakir asmara sahaja agar bisa gila-gilaan sepanjang malam. (ALIBI)

Farewell Party 2009 didominasi pentas musik. Sesi dansa dimulai, I Don't Wanna Miss A Thing-nya Aerosmith mengalun. Mereka yang berpasangan mulai bergerak syahdu di atas lantai, sementara kami yang fakir asmara hanya bisa saling lirik dan bergerak menyedihkan. Sebenarnya saya ingin amat sangat sekali mengajak seseorang berdansa tapi terlalu banyak alasan yang tepat untuk mengurungkannya. Dia sedang dikerumuni teman-temannya sehingga perlu nyali berlipat-lipat untuk sekedar 'nyirik-nyirik'. Mungkin saya berhasil mendekat tapi ketika mengulurkan tangan saya bakal disambut kata, "maaf bukan muhrim" atau "nggak mau" sambil menggeleng. Jadi musik yang saya dengar saat itu seperti berubah Terdiam-nya Maliq & D'essentials sepanjang malam.

Angin berubah, fakir asmara bersatu, mereka menyerang lantai dansa, bergerak liar bersamaan, absurd, benar-benar menyeramkan, mengeluarkan gerakan apa saja yang bisa mereka praktikkan. Berikutnya proyek rahasia kami, para alumni, dimulai. Berbekal flashdisk berisi lagu dangdut donlotan yang dipaksakan untuk diputar, akhirnya tembang dahsyat ABG tua mengudara. Kami langsung bergerak tanpa dikomando membentuk lingkaran mengelilingi Sang ABG Tua (nama disamarkan) menghabiskan stamina kami yang tersisa untuk joget-joget terbrutal yang pernah ada.


Sang ABG Tua: Prom King sesungguhnya

Mungkin Farewell Party kali ini tidak berjalan sesuai ekspektasi tiap orang yang berbeda-beda. Namun saya yakin warna yang berbeda akan membuat malam 5 Oktober dikenang setiap pemegang kalung merah angkatan 2009. VIVA TREASURY!


"I don't wanna close my eyes
I don't wanna fall asleep
'Cause I'd miss you, babe
And I don't wanna miss a thing
'Cause even when I dream of you
The sweetest dream will never do
I'd still miss you, babe
And I don't wanna miss a thing"



Aerosmith - I Don't Wanna Miss A Thing





Congratulation Senior!!

Rabu, 24 Oktober 2012

Catatan Akhir Kuliah: Prolog - Oktober

Ibuku mencatat tanggal keberangkatanku ke barat. Ia menulis di atas secarik kertas dengan bolpoin : 8 Oktober 2009.

Kemarin lampau, saya menengok kalender dan menuding-nuding tepat di atas angka 11: 11 Oktober 2012.

8 October 2009 - 11 October 2012 : 3 Amazing Years.

Kuliah saya dimulai di bulan Oktober, resmi lulus di bulan Oktober, Farewell Party Spesialisai di Bulan Oktober, wisuda di Bulan Oktober, banyak orang yang berarti buat saya berulang tahun di Bulan Oktober, dan tentu saja perjalanan dahsyat saya juga berlangsung dan berakhir di bulan ini.

Cinta bagaikan beterbangan di udara dan saya hirupi di Oktober. Cinta tidak harus selalu terkungkung sempit. Cinta yang membuat orang tua saya rela berpayungan panas matahari melangkah masuk anjungan tunai mandiri buat mengirim uang bulanan saya sepanjang tiga tahun terakhir. Cinta yang membuat Bapak Direktur mau menandatangani ijazah meski saya gak pernah bayar SPP. Cinta yang membuat kawan-kawan  mau saling berbagi hampir apa saja agar bisa menambah A.Md. bersama-sama di belakang nama mereka. Cinta lagi, munafik bila berujar tidak ada lagi satu cinta ini yang membuat motivasi hidup jadi mendesir-desir dalam menjalani hari. Dan tentu saja Cinta dari Allah yang membuat semua cinta yang ada dapat terjadi dengan indah.

"October, Love is in The Air"

Selasa, 02 Oktober 2012

Kosong

Pernahkah kalian mengalami suatu sore? Suatu sore dengan awan kelabu bersulaman dengan langit kelam? Lalu gilirannya hujan turun bersamaan dengan dingin merayap rayap. Ingin tertidur sejenak saja, hilang ingatan sementara. namun yang terjadi malah terjaga sepanjang sore, sore yang muram.

Sebenarnya kalian tidak sendirian. Kawan kanan, kiri, depan, belakang masih ada di dunia saat itu, hanya saja mereka tidak terdengar suaranya, tidak terlihat batang hidupnya, dan tak tercium bau keringatnya. Mereka sedang hidup di kotak-kotaknya sendiri, entahlah apa yang sebenarnya mereka lakukan. Melamun, tidur, atau sibuk dengan yang ada di seberang kabel. Coba melongok ke arah luar kaca jendela, yang ada hanya adalah air yang berderai-derai bak tirai, atau daun-daun gugur yang bermain-main dalam genangan air di halaman kusam, tak cukup menarik untuk mengusir sepi.

Kosong dan sepi, mungkin itulah beberapa unsur pembentuk senyawa sedih. Namun mengapa sedih? kalian mulai berpikir apakah gerangan penyebabnya.

Karena suasana sore yang begitu suram?

Karena ingin jogging tapi hujan pasti bikin berinding?

Karena ingin bertualang tapi nggak punya uang?

Karena temanmu bisa ke Semeru sementara kalian bergumul dengan selimut?

Karena ingin nongkrong tapi jadwal teman-temanmu gak pernah kosong?

Karena belum berani bicara, bicara segalanya, bicara segalnya kepada dia, bicara segalnya kepada dia yang ketika namanya disebut sejenak perutmu seperti kram, dadamu sesak padahal sedang tidak asma, dan jantungmu bertaluan dengan hebatnya?

Atau karena hanya kurang bersyukur kepada Yang Mahakuasa?


"There are as many nights as days, and the one is just as long as the other in the year's course. 
Even a happy life cannot be without a measure of darkness, and the word 'happy' would lose its meaning if it were not balanced by sadness."
Carl Jung


Blogger news

Photobucket